Kalimat Majemuk Bertingkat : Pengertian Dan Contohnya

Kalimat Majemuk Bertingkat : Pengertian Dan Contohnya
5 (100%) 3 votes

Kalimat Majemuk Bertingkat : Pengertian Dan Contohnya

egriechen.info – Kalimat majemuk bertingkat terdiri atas klausa yang tidak sederajat. Keudukan klausanya tidak sama. Ada klausa yang menjadi induk kalimat, ada klausa yang menjadi anak kalimat.
Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat Majemuk Bertingkat

Contoh Kalimat Majemuk Bertingkat : 

  • Budi menaiki tangga dengan hati-hati agar tidak jatuh.
 Penjabaran kalimat tersebut:
Budi menaiki tangga dengan hati-hati agar tidak jatuh.
– Budi menaiki tangga dengan hati-hati  (induk kalimat) 
– (agar) tidak jatuh. (anak kalimat)
Kalimat majemuk dapat diubah susunannya dengan menempatkan anak kalimat mendahului induk kalimat. Penulisan kalimat tersebut ditandai penggunaan tanda koma (,) setelah anak kalimat.
Perhatikan pengubahan kalimat berikut!

Agar tidak jatuh, Budi menaiki tangga dengan hati-hati. 

Kalimat majemuk bertingkat juga ditandai dengan penggunaan kata penghubung. Setiap kelompok kata penghubung menandai makna yang berbeda. Berikut ini kelompok kata penghubung yang dimaksud beserta makna yang ditimbulkannya.
  • Makna Waktu
Kata penghubung yang digunakan yaitu semenjak, sedari, sejak, sewaktu, tatkala, seraya, serta, selagi, sementara, selama, sambil, ketika, setelah, sebelum, sesudah, susai, begitu, dan sehabis.
Contoh pemakaiannya dalam kalimat adalah sebagai berikut.
a. Semenjak di TK, aku ikut nenekku.
b. Sedari di TK, aku ikut nenekku.
c. Sejak di TK, aku ikut nenekku.
Kata penghubung yang menyatakan “waktu permulaan” meliputi semenjak, sedari, dan sejak.
Kata penghubung yang lain yaitu kata penghubung yang menyatakan “waktu bersamaan” meliputi; sewaktu, tatkala, ketika, seraya, sambil, selagi, sementara, dan selama.
Kata penghubung yang menyatakan “waktu berurutan” meliputi; setelah, sebelum, begitu, sesudah, dan seusai.
  • Makna Syarat
 Contoh:
  1. Beliau pasti senang jikalau karyanya dihargai.
  2. Beliau pasti senang seandainya karyanya dihargai.
  3. Beliau pasti senang andaikata karyanya dihargai.
  4. Beliau pasti senang andaikan karyanya dihargai.
  5. Beliau pasti senang asalkan karyanya dihargai.
  6. Beliau pasti senang kalau karyanya dihargai.
  7. Beliau pasti senang apabila karyanya dihargai.
  8. Beliau pasti senang bilamana karyanya dihargai.

Kata bercetak miring dalam kalimat tersebut merupakan kata penghubung yang menyatakan “syarat”. Dalam kalimat, delapan penghubung tersebut dapat saling menggantikan.

  • Makna ‘Tujuan’

Kalimat mejemuk bertingkat dengan makna ‘tujuan’ ditandai dengan kata penghubung agar, biar, dan supaya. Perhatikan penggunaannya dalam kalimat berikut!

a. Jembatan itu diperbaiki agar lalu lintas lancar.
b. Jembatan itu diperbaiki supaya lalu lintas lancar.
c. Jembatan itu diperbaiki biar lalu lintas lancar.
Kata penghubung untuk menyatakan tujuan meliputi agar, biar dan supaya.
  • Makna ‘Konsesif’ (menyatakan kondisi yang berlawanan)

Kalimat majemuk bertingkat dengan makna ‘konsesif’ menggunakan kata-kata penghubung seperti pada contoh kalimat berikut;

a. Luna tetap pergi walaupun hujan turun sangat deras.

Kata penghubung yang digunakan adalah walaupun. Kata penghubung lain untuk menyatakan kondisi berlawananmeliputi walau, kendati, kendatipun, meski, meskipun, dan sungguhpun.

  • Makna Pembandingan

Kata penghubung yang menyatakan makna ‘pembandingan’ yaitu seperti, ibarat, bagaikan, laksana, sebagaimana, daripada, dan alih-alih.

Perhatikan contoh penggunaannya dalam kalimat-kalimat berikut:
1. Wajah Tara dan Tari seperti pinang dibelah dua.
2. Wajah Tara dan Tari ibarat pinang dibelah dua.
3. Wajah Tara dan Tari bagaikan pinang dibelah dua.
4. Wajah Tara dan Tari laksana pinang dibelah dua.
5. Wajah Tara dan Tari sebagaimana pinang dibelah dua.
Kalimat kata penghubung tersebut dapat saling menggantian dalam kalimat.
a. Saya lebih senang memiara angsa daripada memiara itik.
b. Alih-alih memakai baju baru, memakai baju pantas pakai pun ia tidak mampu.

Kata penghubung perbandingan yang dapat saling menggantikan antara lain seperti, ibarat, bagaikan, laksana dan sebagainya. Kata penghubung perbandingan yang tidak dapat digantikan yaitu daripada dan alih-alih.

  • Makna Sebab
Perhatikan kalimat dibawah ini;
a. Antok berjalan memakai kruk karena kakinya patah.
b. Antok berjalan memakai kruk oleh karena kakinya patah.
c. Antok berjalan memakai kruk sebabkakinya patah.
d. Antok berjalan memakai kruk lantaran kakinya patah.
Keempat kata penghubung bercetak tebal tersebut dapat saling menggantikan dalam kalimat.
Berkat keuletan usahannya, Pak marsono meraih kesuksesan. Kata penghubung berkat menyatakan suatu keberhasilan.
  • Makna ‘akibat’
Kata penghubung yang menandai makna ini yaitu hingga, sehingga, sampai-(sampai) dan maka. Penggunaan kata-kata penghubung itu dapat dilihat dalam kalimat:
  1. Perselisihan kedua warga itu semakin meruncing hingga kepala desa turun tangan.
  2. Perselisihan kedua warga itu semakin meruncing sehingga kepala desa turun tangan.
  3. Perselisihan kedua warga itu semakin meruncing sampai kepala desa turun tangan.
  4. Perselisihan kedua warga itu semakin meruncing sampai-sampai kepala desa turun tangan.
  5. Hujan turun maka kami tidak jadi pergi.
  • Makna ‘sangkalan’
Kata penghubung yang digunakan untuk menyatakan makna sangkalan yaitu seakan, seakan-akan, dan seolah-olah. Perhatikanlah penggunaannya dalam kalimat berikut!
  1. Tedi tetap menghibur teman-temannya seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
  2. Tedi tetap menghibur teman-temannya seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.
  3. Tedi tetap menghibur teman-temannya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Dikutip Dari : GuruPendidikan